Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah - 15 Jul 2011
SUAKA IKAN KALI BRANTAS
Sensus Ikan Kali Brantas 2011 menemukan 8 spesies ikan yang sudah tidak ditemukan. tahun 2009 ditemukan 17 Jenis kini yang ada tinggal 9 spesies
Pengelolaan Kali Brantas sejak tahun 2006 menjadi kewenangan Pemerintah Pusat Republik Indonesia karena Kali Brantas termasuk dalam sungai strategis nasional mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 11 A/PRT/M/2006 Tentang Kriteria dan Penetapan wilayah sungai. Mengacu pada Undang-undang Pengelolaan Sumberdaya Air nomor 7/2004 dalam penjelasan umum menyatakan bahwa pengaturan kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan sumberdaya yang menjadi kewenangan Pemerintah Pusat adalah wilyah sungai lintas propinsi, lintas Negara dan/atau wilayah sungai strategis nasional. Namun sayangnya hasil temuan tim ecoton menunjukkan bahwa kondisi Kali Brantas kini diterlantarkan. Kerusakan tebing sungai, jebolnya tanggul dan amblesnya dasar sungai mengakibatkan hilangnya habitat ideal bagi ikan di Kali Brantas. Hilangnya Keanekaragaman hayati ini harus segera di cegah dengan menetapkan beberapa kawasan suaka bagi ikan. Kali Brantas sebenarnya merupakan rumah bagi 55 Jenis ikan yang bernilai ekonomis. Kini hanya dapat dijumpai separuhnya. Lambannya penanganan Kali Brantas oleh Presiden akan mengurangi hak ekologis dan peluang ekonomi warga Brantas.


Jenis yang ditemukan 2009 Bader abangan, Baderputihan, Bader Kunir, Montho, Palung, Jendil, Rengkik, Berot, Kething, Nila, Papar, Betutu, Jambal, Bloso, Murah ganting, Ulo dan Sili sedangkan dalam sensus 2011 sudah tidak lagi ditemukan Papar, Betutu, Jambal, Bloso, Mura ganting dan Sili.

Bila dibandingkan dengan hasil sensus pada 2009 maka 8 (delapan) spesies sudah tidak dapat ditemukan pada sensus 2011. Dari table diatas terlihat terjadi penurunan jumlah spesies ikan yang ditemukan antara Segmen Kediri dan Segmen Jombang. Banyak faktor yang menyebabkan turunnya jumlah spesies yang ditemukan.
Perubahan fisik sungai dan banyaknya sampah yang mengambang di sungai sangat mempengaruhi kelimpahan ikan.” Ikan membutuhkan tempat-tempat tertentu di dasar sungai yang cocok bagi ikan untuk mencari makan, tempat bersarang dan meletakkan telurnya,” Ujar Nur Rebo Nelayan Dusun Paras Megaluh Jombang yang ikut serta dalam tim sensus Ikan 2011, lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dasar sungai berpasir, berbatu, teduh dan daerah kelokan sungai adalah tempat ideal yang disenangi ikan.” Sekarang sulit mencari papan kang genah (Tempat ideal yang disenangi Ikan) , Kini sulit bagi kami untuk menemukan daerah ideal,” ungkap Nur Rebo.
Dari pengalaman Sensus 2009 menunjukkan hal senada, pada daerah makam purwoasri umumnya digunakan sebagai sarangnya ikan Jendil dan ulo.Pada tahun 2009 salah seorang tim sensus dalam sekali tebar jarring dapat menangkap 25 ekor ikan jendil dan ulo. Bahkan untuk menarik jarring keatas perahu harus dipinggirkan di gampeng (bantaran sungai). Pengalaman lainnya tentang melimpahnya ikan di segmen Kediri – Kertosono adalah pengalam Sunyoto (65 tahun) anggota tim sensus yang pernah dalam sekali menebar jaring berhasil mendapatkan 1 kwintal lebih 7 Kg ikan.” Waktu itu didaerah sebelum Kota Kediri saya mendapatkan ikan 1 kwintal lebih 7 Kg, untuk mengangkutnya seorang pedagang ikan dari kediri harus menyewa mobil tepak (pick up),” Ujar Sunyoto lebih lanjut Sunyoto menyatakan pada lokasi yang disukai ikan seperti kedung (sungai dalam dan berpusaran air) ikan yang ada seperti kawanan burung dali yang berterbangan dari dahan.” Kami dulu sering kewalahan menangkap sangking banyaknya ikan” tutup Sunyoto.

Popok dan Pembalut Wanita
Lebih dari 25 kali dalam 100 kali tebar jarring masing-masing tim selalu menangkap Popok bayi dan Pembalut wanita.” Awalnya saya kira ikan bader putihan, ternyata popok bayi dan pembalut,” ujar Priyo anggota tim sensus Ikan. Sebelum tahun 2009 Priyo menyatakan tidak pernah mendapatkan popok atau pembalut wanita dalam jarring kami namun kini tim nelayan kewalahan membersihkan jaring dari 2 jenis kotoran tersebut. Perilaku masyarakat yang membuang sampah kesungai dan menjadikan daerah gampeng menjadi tempat sampah membuat sungai tercemar. Pencemaran ini juga akan berdampak pada rusaknya habitat ikan di Kali Brantas.
Frekuensi didapatkannya sampah antara jembatan Kertosono- Belakang PG Lestari mengalami penurunan namun terjadi peningkatan lagi setelah bendungan air di Desa Brodot hal ini dikarenakan banyaknya pemukiman yang dekat dengan sungai Brantas.

Kesimpulan
1. Hanya ditemukan 11 jenis ikan pada sensus ikan 2011, sedangkan pada tahun 2009 ditemukan 17 jenis ikan. bila dibandingkan dengan sensus 2009 maka terjadi penurunan jenis spesies ikan yang ditemukan
2. Berkurangnya Jumlah Habitat ideal Ikan. Perubahan dasar sungai yang umumnya dijadikan habitat ikan (tempat memijah, bersarang dan bertelur) telah berubah yang dulunya berpasir dan berbatu kini berubah menjadi berlumpur, berlimbah dan padas keras karena pasir dan kerikil disedot
3. Kelimpahan ikan kini jauh menurun bila dibandingkan 2009
4. Jenis kelamin ikan betina dan jantan seimbang. Hal ini berbeda dengan proporsi jenis kelamin ikan di KALI SURABAYA. Jenis ikan betina lebih mendominasi (lebih dari 85%) ini akibat limbah domestik mengandung kencing ibu2 yang memakai pil KB yang didalam pil KB ini mendorong kelamin ikan untuk lebih menjadi betina
5. Terjadi penurunan kelimpahan ikan dan kelimpahan populas ikandari hulu ke hilir
6. Berubahnya fisik sungai akibat penambangan pasir menggunakan ponton,alihfungsi bantaran dan dijadikannya bantaran sungai sebagai tempat sampah
7. Penurunan Gizi Ikan. Kualitas air yang tercemar limbah akan mempengarui pola makan ikan. sehingga apabila terjadi pencemaran yang berlebihan di Kali brantas selama 10 tahun terakhir menyebabkan penurunan gizi/nutrisi ikan.

Rekomendasi
Mendesakkan Gerakan Nasional Penyelamatan Brantas yang melibatkan Presiden, Menteri PU, Menteri Lingkungan, Kehutanan, Gubernur Jatim Pemkab/Pemkot se DAS Brantas.
pertama. Rehabilitasi Gampeng. kawasan bantaran sungai harus di hutankan dengan vegetasi asli yang sebelumnya ada dan kini telah hilang seperti bambu
Kedua. Pengamanan tanggul, dalam inventarisasi kami banyak ditemukan tanggul dan dinding sungai yang kritis dan terancam ambrol maka rehabilitasi dan pengamanan tanggul ini harus melibatkan masyarakat dan terutama SEKOLAH (SMP/SMA) sepanjang DAS Brantas untuk mengadopsi sungai untuk di hutankan.
Ketiga, Penetapan Kawasan Suaka Ikan. Rehabilitasi dasar sungai Brantas sebagai HABITAT IKAN. Mengembalikan dasar sungai agar bisa kembali menjadi habitat ikan. Pengelola Brantas harus menetapkan beberapa kawasan/zona pada segmen Kediri-Kertosono untuk menjadi kawasan Suaka bagi ikan. Terdapat 3 titik habitat ideal bagi ikan di segmen Kediri-Kertosono dan 3 titik di Segmen Kertosono-Jombang maka lokasi ini harus dilindungi dan dikembalikan lagi menjadi habitat ideal ikan.
Keempat. Budidaya ikan Jambal, Jendil dan Rengkik. Mendorong masyarakat di DAS Brantas untuk membudidaya ikan-ikan khas Brantas seperti Jambal, Rengkik dan Jendil karena ketiga ikan ini memiliki nilai ekonomi tinggi dan bergizi tinggi.
Kelima, Dorongan Kepada Pemerintah Pusat Bupati Kediri dan Bupati Jombang harus meminta tanggung jawab pemerintah pusat (Presiden dan menteri PU dan Menteri Lingkungan hidup) karena sungai Brantas adalah sungai strategis nasional sehingga pengelolaannya adalah di tangan Presiden. Karena kerusakan Brantas ini banyak masyarakat Kediri yang dirugikan secara ekonomis dan ekologis.
Keenam, Patroli Brantas. Harus ada inisiasi dari Pemkab Kediri dan Pemkab Jombang untuk melakukan monitoring Brantas dengan melakukan patroli dengan diikuti pemasangan plakat dan himbauan pelestarian Kali Brantas.
Ketujuh. Kurikulum Brantas. Mengintegrasikan masalah Sungai Brantas kedalam mata pelajaran di Sekolah.
Pemasok: Prigi Arisandi