|
|
 |
|
 |
|
|
  - 01 Nov 2009 |
| Wisuda LEAD Fellows Cohort 14 Indonesia: Dengan Roadmap Menuju Kedaulatan Pangan |
| Peserta LEAD Associate Training Cohort 14 Indonesia yang terdiri dari Ario Tranggono, Bayuni Shantiko, Farah Sofa, Hermas E. Prabowo, J. Indro Surono, Mujiati, Nana Agustina Dhian Ekawati, Nancy Kiay, Puji Sumedi Hanggarawati, Said Abdullah, dan Tini Sastra akhirnya diwisuda menjadi LEAD Fellows pada tanggal 14 Agustus 2009 yang lalu. Dua hari sebelumnya, mereka telah memaparkan presentasi hasil kerjasama tim, sebuah roadmap yang berjudul "Dari Ketahanan Pangan Menuju Kedaulatan Pangan" di hadapan para ahli pangan dan perubahan iklim Indonesia di Hotel Grand Kemang Jakarta. Sementara tiga orang peserta lainnya, yaitu Asikin Chalifah, Nusya Kuswantin dan Yusman Syaukat, diwisuda sebagai LEAD Associates.
 |
| |
Roadmap Menuju Kedaulatan Pangan ini merupakan 'grand-design' yang mereka buat berdasarkan pengalaman mereka selama ini bergelut dengan dunia wacana dan praktek di bidang perpanganan yang diperkaya dengan training intensif tentang Food Security in Times of Climate Change yang diselenggarakan oleh LEAD Indonesia sejak bulan April 2009 yang lalu. Setelah menyelesaikan empat bulan tahap national session di Indonesia, para LEAD Fellows & Associates Cohort 14 ini akan menuju LEAD International Session yang diselenggarakan di Beijing pada tanggal 8-14 November 2009 mendatang.
Melalui serangkaian tahapan pelatihan, Cohort 14 kemudian memilih kedaulatan pangan sebagai misi kelompok berdasarkan pertimbangan bahwa pangan merupakan kebutuhan pokok dan hak asasi manusia yang oleh sebab itu merupakan komoditas strategis dan politis suatu negara. Dalam pemaparan roadmap disebutkan bahwa isu perubahan iklim berdampak besar terhadap kerentanan ketersediaan pangan antara lain karena mempengaruhi perubahan pergiliran tanaman dan perubahan waktu tanam, menghendaki adaptasi terhadap banjir dan kekeringan, juga terhadap pemilihan benih. Perubahan iklim juga menghendaki perubahan pola budidaya, berakibat pada meningkatnya jenis dan jumlah serangan hama dan penyakit, menyebabkan perubahan kualitas dan kuantitas air, serta peningkatan permukaan air laut. Perubahan iklim juga mengakibatkan dampak psikologis pada umat manusia.

Merujuk definisi ketahanan pangan menurut UU No.7/1966 tentang Pangan dikatakan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Sementara Organisasi Pangan Dunia FAO (1997) mendefiniskan ketahanan pangan sebagai situasi dimana semua rumah tangga mempunyai akses, baik fisik maupun ekonomi, untuk memperoleh pangan bagi seluruh anggota keluarganya dimana rumah tangga tidak berisiko mengalami kehilangan kedua akses tersebut. Dari definisi tersebut diketahui bahwa ketahanan pangan meliputi unsur ketersediaan dan akses atau produksi dan keberlanjutan.
Adapun kedaulatan pangan menyiratkan makna sebagai hak nasional suatu negara dan jaminan negara yang bila dibedah secara seksama akan mengungkapkan empat pilar, yaitu reforma agraria, pertanian berkelanjutan, perdagangan yang adil, dan konsumsi yang berkelanjutan. Mengutip pernyataan gerakan petani internasional La Via Campensina, kedaulatan pangan adalah merupakan kedaulatan masyarakat, kedaulatan pemerintah/negara untuk menggunakan hak menentukan kebijakan pertanian dan pangan bagi bangsanya.
Dalam rangka ikut mewujudkan kedaulatan pangan , C-14 terlibat aktif dalam upaya tersebut dimana C14 telah menyusun kerangka kerja bersama yang akan ditindaklanjuti dalam rangkaian kegiatan yang menitik beratkan pada 4 isu bidang produksi, cadangan/ stok pangan, distribusi dan konsumsi :
1. Pengembangan / inisiasi kelembagaan penjamin hasil produksi petani.
Aspek produksi, sebuah rangkaian kegiatan di sektor hulu yang menjadi pondasi ketersediaan pangan. Di tengah perubahan iklim, ketidakpastian ketersediaan pangan menjadi sangat tinggi. Karenanya diperlukan strategi kelembagaan yang adaptif untuk menjamin kepastian produksi yang melindungi petani.
2. Pengembangan inisiatif cadangan/stok pangan.
Pengembangan institusi lokal yang bertujuan menjamin ketersediaan cadangan pangan harus dibangun mulai ditingkat komunitas sampai tingkat kabupaten kota.
3. Mempromosikan dan mengawal upaya green-mainstreaming dan paradigma pertanian ramah lingkungan
Praktek-praktek pertanian yang ada saat ini tidak mencerminkan keberlanjutan dan kedaulatan produksi pangan masyarakat. Oleh karenanya diperlukan upaya-upaya untuk mempromosikan kembali praktek pertanian konvensional yang lebih ramah lingkungan dan mendukung keberagaman pangan melalui kelembagaan formal dan informal. Gerakan social dan lingkungan, siswa sekolah, menjadi salah satu aliansi strategis yang akan diintevensi menjadi transformer dan agen perubahan isu kedaulatan pangan dan perubahan iklim. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan oleh C-14 adalah melakukan intervensi pada penyusunan kurikulum pendidikan nasional untuk memasukkan prespektif mainstreaming sebagai muatan kurikulum.
4. Penganekaragaman pangan:
Keragaman sumber plasma nutfah pangan merupakan kekayaan Indonesia yang terabaikan. Sementara, di tengah ketidak pastian musim, penganekaragaman jenis pangan sebagai konsumsi merupakan sebuah solusi cerdas untuk streategi adaptasi. Untuk membumikan dan memulai gerakan "bangga terhadap pangan lokal", diperlukan strategi awareness yang menarik dan menyentuh nurani target audience disemua kalangan.
Guna mengkritisi serta memperkaya roadmap ini telah diundang para ahli kebijakan, pakar ekonomi, pangan dan perubahan iklim dari perguruan tinggi maupun aktivis organisasi petani -- yang telah memberikan kuliah pada LEAD Training maupun yang tidak – antara lain Prof. Setijati D. Sastrapradja (Naturindo), Kresnayana Yahya (LEAD Fellow Cohort 2, ENCIETY), Chrisandini (WWF Indonesia), Dr. Kaman Nainggolan (Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Sistem Informasi dan Pengawasan), Prof. Ani Mardiastuti (LEAD Fellow Cohort 7, Fakultas Kehutanan IPB), Dr.Ir. Djagal W. Marseno (LEAD Fellow Cohort 3, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM), Dr. Sukarno (BULOG), Sabaruddin (BULOG), Dra. A.Prasetyo Murniati, MA (Universitas Sanata Dharma/Komnas Perempuan), Dr. Rizaldi Boer MS (Kepala Pusat pengelolaan Peluang & Risiko Iklim Kawasan Asia Tenggara & Pasifik, LPPM IPB), Giorgio Budi Indarto (Koordinator Nasional Civil Society Forum for Climate Justice), Chandra Wirman (LEAD Fellow Cohort 9, Inquest Consulting), Muhtadi Sadzali (Dewan Eksekutif YPB, LEAD Fellow Cohort 1), Asianto Sinambela LL, M. (Departemen Luar Negeri RI), Norman Effendi (Direktorat PPIH, Deplu), Teten Avianto (LEAD Fellow Cohort 5, Lablink), Daniel Mangoting (ELSPPAT), Ade Herlina (Solidaritas Perempuan) dan Witoro (KRKP). Lebih dari sekedar training, Lokakarya ini merupakan bagian penting yang memberikan tantangan untuk Cohort 14 mengembangkan dokumen road map yang lebih kuat untuk masa depan.
Selain menyajikan roadmap sebagai tugas kelompok, para LEAD Fellows Cohort 14 juga mengemban tugas individual membuat LEAD Associate Project yang diintegrasikan ke dalam pekerjaan sehari-hari mereka melalui lembaga tempat mereka bekerja.
Terima kasih untuk Bapak Sandiaga Uno dari PT Saratoga Investama Sedaya yang telah mendukung lokakarya tentang Ketahanan Pangan, di Hotel Grand Kemang, Jakarta. Dan terimakasih juga untuk LEAD International atas dukungannya kepada LEAD Fellow C14 untuk menghadiri LEAD International Session di Beijing, China (8 - 14 November 2009).(nusya)
| | Pemasok: Maulana Yusuf |
|
|
|