Jaringan Pendidikan Lingkungan - 16 Jan 2001
Selalu Ingin Menanam Pohon
Dalam pendidikan lingkungan kita tidak hanya berbicara tentang aspek ilmiah tentang lingkungan. Kita juga bicara tentang aspek emosional filosofis. Alam adalah media kita belajar dan meluaskan perspektif tentang diri kita sendiri, serta tentu memperdalam pemahaman dan empati kita terhadap alam. Sehingga, alam tidak sekedar menjadi sumberdaya yang harus dikelola, tetapi mitra hidup, teman sama-sama berkembang. Tulisan Eka Budianta ini semoga dapat membantu para pendidik lingkungan untuk memahami perspektif ini.
Sebenarnya aku ingin menanam manusia. Tapi mana mungkin? Cuma Shakespeare, Pramoedya Ananta Toer, dan penulis-penulis ulung dunia yang bisa melakukannya. Mereka “menanam” manusia unggul maupun hibrida. Ada yang hebat dalam tindakan, pikiran maupun cita-citanya. Aku hanya bisa menanam pohon. Karenanya, kemana aku pergi, kalau bisa membawa atau mendapatkan bibit. Ada pohon sukun kubawa terbang dari Yogya. Kemiri dan asam kandis kubawa pulang dari Medan. Bibit cendana dari teman-teman di Universitas Widyamandira, Kupang. Dan seterusnya.

Pohon-pohon itu menemani perjalananku. Bersyukur aku bekerja pada industri pengelolaan sumber air minum, yang memerlukan pohon. Dalam setiap kesempatan dapat kutanam pohon-pohon baru. Baik yang unik maupun yang biasa. Dan yang aneh, sekalipun aku mengenal lumayan banyak jenis pohon kayu dan perdu, selalu saja ada spesies baru yang mendadak muncuk di depan hidungku. Contoh: guttaperca, dari Sukabumi. Ini adalah jenis karet yang getahnya berat dan kuat. Cocok untuk membuat bola golf, kabel bawah laut, dan gigi palsu.

Mengenai teknik menanam juga macam-macam. Herman Setiadi, seorang naturalis yang tinggal di Garut, Jawa Barat, memberi nasihat, ”Kalau tanam pohon minimal lima batang.” Mengapa? Satu mati karena salah tempat. Satu tumbuh tapi harus ditebang, juga karena salah tempat. Satu mati kering lupa menyiram. Dan satu lagi mati dimakan hama. Bisa digerogoti rayap, dimakan ulat atau diterjang kambing. Akibatnya, tinggal satu saja yang tumbuh besar, dan menjadi bayaran kita kepada alam.

Bertahun-tahun aku jadikan ilmu yang pesimistis ini kiat sukses menanam pohon. Tapi aku juga tidak mengabaikan kiat yang optimistis. Muhammad Kasim Arifin, pemenang Hadiah Kalpataru pertama yang tersohor dengan julukan “Lelaki dari Waimital” justru punya kiat sebaliknya. :”Kalau tanam lima biji, yang tumbuh harus lima!” katanya. Kini ia bekerja di Langsa, Aceh, sebagai aparat Unit Manajemen Leuser.

Luar biasa! Kebanyakan orang ingin tanam pohon yang langsung besar. Kalau bisa langsung berbuah, langsung ditebang, dan mendapat sekian juta dolar. Muhammad Kasim Arifin tidak begitu. Ia membawa biji-bijian dalam tasnya, dan disebar-sebarkan ke berbagai tempat. Biji apa saja? Buah-buahan. Terutama durian, mangga, dan rambutan. Sekarang aku mengerti mengapa ia bersemboyan tanam lima tumbuh lima? Kiatnya terletak pada kepandaian memilih benih dan biji yang betul-betul bakal hidup.

Aku menggabungkan kedua kiat itu. Kalau beli buah pilih yang tua. Biji-bijinya jadi bisa ditanam. Bibit-bibit yang bagus bisa dibuat dengan mencangkok, sebanyak-banyaknya, sesering-seringnya. Yang terang, banyak pohon harus dibantu penyebarannya. Setiap industriwan yang baik dapat membuat tanam-taman konservasi menjadi kenyataan. Jangankan pengusaha kayu, baik untuk pulp, kayu lapis, apalagi gelondongan, toko kertas dan tisyu pun sebaiknya rajin menanam pohon. Sebaiknya mereka berpikir seperti Herman, tebang satu tanam lima.

Aku dekat dengan pohon, seperti anakku dekat dengan komputer. Seperti pembaca dengan bukunya. Seperti pembalap dengan kuda, sepeda motor, atau mobil balapnya. Sejak kecil pohon telah menemaniku. Kalau sedang kecewa, sedih atau marah, aku berlari, menceritakan semuanya pada pohon-pohon. Mereka diam. Mungkin ikut sedih. Mungkin juga kesal melihat manusia suka mengasihani diri sendiri. Pada suatu hari pohon ceri menghempaskan aku ke tanah. Pohon kelapa menjatuhkan daunnya. Untung tidak tepat di kepalaku. Aku bertengkar dengan pohon-pohon itu. Tapi biasanya segera baik kembali.

Di Afrika aku bisa tiduran pada dahan pohon mufunge, yang tumbuh sampai tua di padang gurun. Di Jawa aku bisa seharian nangkring di atas pohon salam. Di atas dahan nangka di rumah masa kecilku, desa Tlogomas, kupasang kursi. Setelah capek berurusan dengan bumi, aku lari ke pelukan langit.

Pohon memberiku kebahagiaan dan kesedihan. Suatu malam aku tak bisa tidur karena belasan pohon pinang yang sedang kusemaikan mati serentak. Padahal induknya baru saja ditebang untuk lomba agustusan. Aneh, untuk merayakan hari kemerdekaan, ratusan bahkan ribuan batang pinang dikorbankan.

Karenanya perlu lebih banyak ditabur pinang-pinang muda. Tapi selalu menebang lebih gampang daripada menanam. Di Indonesia, lebih banyak orang yang suka hal-hal gampang. Mengangkat lebih sukar daripada menjatuhkan. Karenanya menjatuhkan pemimpin sendiri, lebih banyak dilakukan ketimbang mendukung dan memperbaiki kinerjanya. Melahirkan dan membesarkan pemimpin, dan berbagai sarana hidup ini, lebih sulit ketimbang merobohkannya. Pohon adalah simbol manusia, perlambang hidup kita sendiri. Semakin tinggi sebuah pohon, semakin besar angin menerpanya.

Tapi juga semakin banyak hal dapat dihidupinya. Pohon besar bisa dipakai tinggal bermacam hewan. Dari semut, ulat, sampai burung, kelelawar, bunglon, ular, bahkan harimau dan beruang. Sebatang pohon juga bisa menghidupi tumbuhan lain. Ada anggrek, benalu, dan berbagai macam liana. Setiap kali berceramah untuk anak-anak sekolah, selalu kumulai dengan bertanya, “apa pohon favoritmu?”

Dari sana orang belajar mengenal nama pohon. Tidak mudah. Ada orang sampai berumur puluhan tahun tidak tahu nama pohon yang tumbuh di muka rumahnya. Karenanya, aku senang sekali ketika bertemu seorang konsul Amerika di Denpasar, dan menyatakan sangat suka pada pohon majegau. Itu adalah pohon khas Bali. Bunganya harum. Kayunya kuat. Dulu dipakai untuk memnagun pura, dan lingkaran roda pedati. Kata banyak orang, majegau termasuk pohon suci, satu kelas di bawah cendana, tapi lebih bagus dari kayu jati.

Penebangan pohon besar-besaran adalah awal dari runtuhnya peradaban. Sebuah pulau bisa berubah menjadi padang yang sepi setelah pohon-pohon habis ditebang. Contohnya adalah Easter Island yang kayunya habis dipakai mengangkuti patung-patung batu. Bangsa Spanyol juga pernah kehabisan pohon karena terlalu getol membuat kapal dan pergi berlayar. Untungnya, habisnya pohon itu mendorong Spanyol menjadi pelopor penghijauan. Mereka juga menemukan sistim bom air untuk memadamkan kebakaran hutan.

Krisis multi dimensional di Indonesia mencapai puncaknya setelah ratusan ribu hektar hutan musnah terbakar. Berbagai sungai jadi kering, mata air mampet, sumber hidup terganggu. Bertahun-tahun Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) protes agar penebangan hutan dihentikan. Sayang pemerintahan militer tidak paham, dan baru berhenti setelah semua hancur berantakan. Aku mendengar ada komandan distrik militer justru punya tronton, truk-truk pengangkut kayu gelondongan. Aneh. Para pelindung dan penjaga ibu pertiwi justru menghancur-leburkan ibundanya sendiri.

Apakah mereka berpikir tak dapat hidup kalau tidak menebang kayu? Bahkan cagar alam dan hutan lindung pun dibabat. Teorinya mereka memang bisa menanam. Ada sistim tebang pilih yang menseleksi mana yang boleh digergaji, mana yang tidak. Tapi disiplin tukang kayu yang rendah dikombinasikan dengan ketamakan dan kerakusan yang tinggi, menghasilkan alam yang tadinya lebat, teduh, dan kaya akan berbagai macam plasma nutfah menjadi padang gersang. Kalimantan adalah korban yang terlentang di depan mata kita.

Toko-toko mebel harus membiasakan diri menanam kayu. Begitu juga pabrik kertas dan semua industri yang berbasis sumber alam. Endi Arifando, seorang pemimpin serikat pekerja, mengibaratkan perusahaannya seperti sebatang pohon dengan buah-buah ranum bergelantungan di dahan dan rantingnya. Para buruh bertugas memupuk, menyirami, dan merawat pohon itu. Pihak manajemen bertugas membagi hasil panen dengan seadil-adilnya. Kedua belah pihak tidak boleh tidur atau memaksakan kemauan sendiri.

Aku bercita-cita semoga kelak muncul putra-putri penyayang pohon. Akan ada pembela pohon-pohon sawo, penyayang eboni, penggemar palem, dan koperasi tanaman langka. Setiap orang memerlukan pohon sendiri kalau mau swasembada oksigen. Setiap pertambahan tujuh manusia, memerlukan lima batang pohon dewasa baru. Setiap mobil juga memerlukan pohon dewasa untuk menyerap emisi karbon. Karenanya, jangan bikin kota kalau tak suka menanam pohon.

Sedapat-dapatnya mari kita sumbang pohon untuk fasilitas umum maupun kebutuhan pribadi. Untuk lapangan golf Senayan pernah kusumbangkan sebatang pohon kepu (Sterculia foetida) yang bibitnya kubawa dari Pulau Bidadari. Semoga seratus tahun lagi pohon itu jadi besar dan tinggi seperti yang dapat kita lihat di berbagai tempat sesaji di Pulau Bali.

Tetapi ada juga pohon-pohon besar yang dipertahankan tertap kecil atau dibonsai. Walikota Purwokerto pada 1999 memberiku hadiah pohon Nagasari. Inilah pohon klasik yang telah disebut-sebut dalam kisah Ramayana. Ke atas pohon itu Hanuman meloncat, mengintai Dewi Shinta yang jadi kurus kering setelah jauh dari kekasihnya. Satu pohon kutanam di halaman pabrik Aqua di Subang, Jawa Barat. Satu lagi tetap dalam pot. Manakah yang akan lebih lama hidupnya? Di alam bebas, atau dalam pot buatan manusia?

Banyak bonsai juga mencapai ratusan tahun. Masyarakat Jepang punya seni bonsai terhebat. Mereka bisa memelihara dan mewariskan dari generasi ke generasi? Demikian jugakah bangsa Indonesia? Kenyataannya, berjuta-juta orang di Jawa tidak bisa mewariskan bahkan sebuah nama keluarga bagi anak-cucunya. Raja-raja di Yogya dan Surakarta telah belajar meneruskan generasi dan menurunkan nama seperti Pakubuwono I hingga XII. Atau Hamengkubuwono I hingga X. Tapi orang-orang Jawa secara umumnya bahkan tak dapat membuat sistim nama untuk keluarganya sendiri.

Nama-nama besar, barangkali juga seperti pohon. Mereka perlu dipupuk, dijaga kehormatannya, dibersihkan secara teratur. Bahkan setelah ditebang, sebatang pohon dengan mutu kayu yang baik, masih bisa jadi patung, kursi, almari, sepatu kayu, meja, pinsil dan tusuk gigi. Begitu juga sebuah nama. Yang kuat dan terpercaya akan menjadi pelindung dan mantera. Banyak nama telah menyelamatkan hidup dan menyambung umurku. Mereka adalah pohon-pohon pengasih yang kuhormati. Orangtua, para guru, sanak kerabat, bahkan tetangga yang penuh perhatian.

Hidupku dipenuhi oleh “pohon-pohon” besar yang indah dan teduh. Terima kasih pada siapapun yang pernah mendengarkan “permohonan”ku. Mereka adalah pohon-pohon terhormat, yang semakin lama semakin besar, semakin subur tumbuh dalam hatiku. Terima kasih ibu. Terima kasih bapak. Baik ibu kandung, ibu guru, ibu mertua, ibu-ibu terkemuka di seluruh dunia. Semoga Tuhan pencipta semua pohon melimpahkan kasih-sayang pada ibu-ibu yang namanya mustahil kusebut satu persatu. Ada ibu anak-anakku, dan anak-anakku yang kelak menjadi ibu.

Tetapi juga kaya akan pohon-pohon kecil. Berbagai bonsai yang telah berusia ratusan tahun. Atau perdu yang hanya hidup untuk beberapa hari. Ada perdu meranti, tomat, cabe, terung, kenikir dan kemangi. Mereka hidup dalam hati, di kebun, maupun dalam rupa keluarga dan sanak saudaraku. Mereka mensyukuri hidup dengan menggunakan waktu sebaik-baiknya, menimba dan membagikan ilmu, serta selalu menjaga kesehatan.

Setelah tua nanti, aku ingin seperti para penanam pohon di lereng Gunung Himalaya. Atau seperti petani-petani kurma yang merawat pohon-pohon kecil dan terus menanam kendati sudah mendekati ajalnya. Mengapa?

Apakah pohon-pohon itu tidak bisa melanjutkan hidup dan menjamin berlangsungnya ketrurunan sendiri? Bukankah ombak telah menolong biji-biji ketapang, pandan, kelapa dan aneka tanaman pantai untuk menyeberang dan tumbuh di pulau-pulau lain? Bukankah angin rajin menerbangkan biji-biji dadap dan mahoni sehingga berputar-putar seperti kitiran, menjauh dari pohon induknya? Bukankah juga burung dan kelelawar menyebarkan biji buah-buahan ke berbagai penjuru?

Betul. Aku ingin bersama angin, ombak, dan burung-burung itu menyebarkan berbagai macam pohon. Aku ingin berbakti untuk pohon-pohon kehidupan. Mereka telah menolong manusia menulis sejarahnya. Pohon memberi kami kertas, meja, kursi, dan inspirasi yang tiada habis-habisnya. Sudah pantas bila kita berterima kasih atas hidup ini dengan cara menanam pohon sebanyak-banyaknya, setulus-tulusnya.

Kabarnya pohon adalah juga mahluk yang jujur dan setia. Pohon mangga tidak akan berbuah manggis. Pohon kelapa tidak menipu anak keturunannya. Tiap buah akan diupayakan sama bulatnya, sama matangnya. Mereka tidak berselingkuh dan tidak korupsi. Pohon-pohon itu hidup dalam persaingan ketat. Di dalam tanah mereka berebut hara, di angkasa berebut sinar matahari. Tetapi mereka tidak saling mengkhianati. Mereka polos dan tulus berkembang seirama musim dan karakter pribadi. Tidak bersandiwara. Saling menerima dan saling memberi.

Akhirnya, semoga tiap orang bisa jadi pohon bagi dirinya sendiri. Tumbuh dengan tenteram, disiplin dan gembira di tempat masing-masing. Bekerja dengan rajin siang dan malam sesuai dengan bakat yang diberikan Tuhan. Bersyukur dan memberikan yang terbaik untuk penciptanya maupun untuk mahluk-mahluk lain. Pohon-pohon tercinta telah menghijaukan perasaanku di masa kecil. Kelak setelah meninggalkan dunia yang fana ini, kalau anda berhasil menjadi pohon yang baik dan besar, tentu dapat memberikan manfaat. Mungkin sebagai biola, patung, atau bingkai lukisan yang indah. Sebagai bangku anak sekolah. Atau sebagai dinding kapal besar yang dengan gagah perkasa berlayar di lautan. Menuju pelabuhan abadi. ***

Penulis : Eka Budianta (Steering Committee JPL)

Pemasok: David Sutasurya


Keterangan photo/gambar:
Eka Budianta di Pohon.