TerraNet: Gapura Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
English Version | Halaman Depan | Milis Info | Jajak Pendapat | WebRing | Pola Kemitraan | Alamat Kontak | Buku Tamu
TerraMitra | TerraMilis | TerraKonferensi | TerraSearch | TerraKliping | TerraAgenda | TerraKartu | TerraJob | TerraKios

 

 

14 October 2008, Kompas Cetak
Jawa Masih Akan Panas dan Kurang Hujan

Jakarta, Kompas - Posisi matahari saat ini berada di belahan selatan, sudah melewati ekuator, sehingga terjadi pemanasan intensif di daerah itu. Namun, kondisi ini tak mengakibatkan penguapan air laut dan dapat menimbulkan hujan di Jawa.

Kenaikan suhu muka laut bergerak ke selatan, tetapi belum mencapai Jawa. Suhu muka laut di sekitar Jawa masih di bawah normal. Ini akibat fenomena Indian Ocean Dipole Mode (kondisi tekanan udara positif di barat Sumatera dan tekanan negatif di perairan Afrika) di barat Sumatera masih aktif. ”Uap air dari Samudra Hindia terbawa ke Afrika. Jadi, uap air masih di bawah normal,” kata Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi Mezak Ratag di Jakarta, Senin (13/10).

Curah hujan di Indonesia sangat dipengaruhi suhu muka laut di wilayah Indonesia dan sekitarnya. Khusus daerah bagian timur Indonesia, suplai uap air dari Pasifik tetap banyak karena La Nina aktif di kawasan itu.

Sumatera, terutama bagian utara, mendapat hujan karena daerah pusat konveksi antartropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ) kembali ada di lintang selatan. Juni hingga September, ITCZ masih di utara Indonesia. ”Hujan tambahan didapat dari pusat tekanan tinggi Dipole Mode di pantai timur Sumatera bagian selatan,” ujar Mezak.

Sementara itu, menurut Kepala Subbid Informasi Iklim dan Agroklimat BMG Sutamto, curah hujan yang tinggi di Sumatera, antara lain di Medan dan Lampung, pekan lalu disebabkan adanya pertemuan angin dari timur dengan angin dari barat-tenggara. ”Hal ini menyebabkan hujan lebat, luas, dan relatif lama di kawasan tersebut,” tambahnya.

Di sebagian NTT, NTB, Bali, dan Jawa, hujan terjadi karena pertemuan angin timur laut dan timur. Kondisi ini menyebabkan hujan lokal yang lebat dan singkat disertai angin kencang. Namun, akibat intensitas pemanasan yang tinggi, air hujan di permukaan cepat kering. Kondisi seperti itu masih akan berlangsung sepanjang minggu ini. (YUN)