Kapal MV Esperanza milik organisasi internasional bidang lingkungan Greenpeace bersandar di Manokwari, Papua Barat, untuk selanjutnya mengamati langsung terjadinya penggundulan hutan di beberapa kabupaten di Papua.
"Greenpeace berkampanye untuk meminta pemerintah mengadakan moratorium, penghentian sementara konversi hutan Indonesia," ujar Bustar Maitar, juru kampanye Greenpeace untuk hutan Asia Tenggara yang berada di kapal tersebut saat dihubungi Tempo, akhir pekan lalu. Yang menjadi sasaran pengawasan, antara lain, kawasan Lereh, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Mamberamo.
Tingkat kerusakan hutan di Indonesia mencapai 3,8 juta hektare per tahun. Jumlah ini, menurut situs resmi Greenpeace, setara dengan hancurnya hutan seluas 300 kali lapangan sepak bola setiap jam. Kondisi itu menyebabkan 72 persen hutan asli Indonesia telah musnah; sisanya terancam oleh pengalihan fungsi hutan dan kebakaran hutan.
Esperanza berlabuh di Manokwari pada 6 Oktober. Mereka berencana melakukan pengamatan hingga 15 November. Selain menggunakan kapal, Greenpeace juga melakukan pengamatan udara dengan menggunakan helikopter. "Menurut pengamatan kami hari ini di atas kawasan Mamberamo, terlihat bekas logging yang cukup luas," ujar Bustar. Menurut dia, ada pula aktivitas logging yang masih berjalan dengan alat-alat berat.
Tim Greenpeace juga menyaksikan pembukaan hutan untuk penyiapan lahan perkebunan kelapa sawit oleh salah satu perusahaan swasta. "Padahal, kami yakin hutan yang dibabat punya nilai konservasi tinggi," kata Bustar. Dia menjelaskan, nilai konservasi hutan berkaitan dengan perannya dalam perubahan iklim global. "Hutan Papua berperan besar dalam mengendalikan emisi gas rumah kaca."
Selain melakukan pengamatan, organisasi nirlaba ini juga mengadakan dialog dengan warga dan pemerintah setempat. "Untuk meningkatkan kesadaran mengenai perlunya konservasi hutan," ucap Bustar. Hasil pantauan dan dialog ini akan disampaikan kepada pemerintah Indonesia. Kapal Esperanza akan berlabuh di Jakarta pada akhir November untuk memaparkan hasil pengamatannya.
"Kami akan sampaikan ke Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian, dan kepada Presiden," ujar Bustar. Selain itu, Greenpeace akan menyampaikan hasil temuannya kepada publik Eropa. Selanjutnya, Greenpeace meminta pembeli di Eropa untuk tidak membeli produk yang berasal dari kegiatan yang merusak hutan Indonesia.