TerraNet: Gapura Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
English Version | Halaman Depan | Milis Info | Jajak Pendapat | WebRing | Pola Kemitraan | Alamat Kontak | Buku Tamu
TerraMitra | TerraMilis | TerraKonferensi | TerraSearch | TerraKliping | TerraAgenda | TerraKartu | TerraJob | TerraKios

 

 

24 March 2008, Kompas Cetak
Petambak Keluhkan Limbah

Benih Ikan Langsung Mati

BEKASI, KOMPAS - Ribuan nelayan dan petani tambak Muara Gembong di Kabupaten Bekasi mengeluhkan limbah yang menghancurkan tambak mereka. Daerah tersebut menjadi muara empat sungai yang diduga membawa serta limbah industri dari Jakarta dan Jawa Barat.

Sejumlah nelayan Muara Gembong yang ditanya Kompas hari Minggu (23/3) siang mengungkapkan, limbah yang berasal dari sungai yang bermuara ke kawasan itu menghancurkan tambak ikan, udang, dan kepiting.

”Belakangan ini limbah dari Sungai Citarum, Kali CBL, Ciherang, serta Blacan telah menyebabkan tambak warga Muara Gembong hancur dan tak dapat berfungsi lagi,” kata Minan (52), nelayan Pantaimekar, Muara Gembong.

Menurut Minan, daerah Muara Gembong pada tahun 1970-an hingga 1990-an masih disebut ”daerah dollar” karena kehidupan di daerah ini relatif makmur.

Minan yang memiliki 10 anak itu memberi contoh, dia sanggup menyekolahkan tujuh anaknya dengan enteng dari hasil tambak. Namun, sejak 2000 ia mengaku mulai sulit menyekolahkan tiga anak lainnya karena usaha tambaknya bangkrut.

”Sekarang bibit ikan baru ditebar di tambak sudah mati akibat tercemar limbah. Banyak teman yang stres,” kata Minan.

Nelayan lainnya, Ahmad Taufik (30), mengenang masa kecilnya pada tahun 70-an. ”Dulu waktu saya ke empang pasti dapat uang. Entah itu hasil menjala ataupun memancing ikan dan kepiting. Sekarang mau cari apa? Benih ikan saja langsung mati,” katanya kecewa.

Kepala Desa Pantai Sederhana, Zeny, membenarkan limbah yang menghancurkan tambak warga terjadi sejak tahun 2000.

”Bukan hanya warga desa kami, tetapi ada 22.000 penduduk di enam desa di Muara Gembong yang menderita. Seluruhnya 14.000 hektar lahan tambak warga Muara Gembong yang tercemar limbah,” katanya.

Kepala Seksi Pengendalian Sumber Daya Alam, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bekasi, Zaenal Arifin, mengatakan, limbah melalui empat sungai dan bermuara di Muara Gembong itu tak hanya dari industri di Bekasi, tetapi juga dari Purwakarta, Karawang, bahkan dari Bandung.

Zaenal mengaku pihaknya masih menyelidiki adanya dugaan limbah yang mencemari daerah Muara Gembong itu.

Butuh dikeruk

Wakil Bupati Bekasi Darip Mulyana saat kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi ke Muara Gembong, Minggu siang, menuturkan, wilayah Muara Gembong termasuk yang mengalami pendangkalan sehingga membutuhkan pengerukan.

Mulyana mengeluh perhatian pemerintah pusat sangat kurang pada wilayah Bekasi utara.

”Pemerintah Kabupaten Bekasi menyetor Rp 34 triliun per tahun ke pemerintah pusat, tetapi sedikit yang kembali ke masyarakat,” ujarnya. (KSP)