TerraNet: Gapura Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
English Version | Halaman Depan | Milis Info | Jajak Pendapat | WebRing | Pola Kemitraan | Alamat Kontak | Buku Tamu
TerraMitra | TerraMilis | TerraKonferensi | TerraSearch | TerraKliping | TerraAgenda | TerraKartu | TerraJob | TerraKios

 

 

17 March 2008, Kompas Online
Petani Bawang Merah Pindah ke Daerah Lain

Brebes, Kompas - Sejumlah petani bawang merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, terpaksa memindahkan lahan bawang merah mereka ke daerah lain karena kian surutnya debit air irigasi dan akibat kontaminasi oleh air laut di Brebes. Para petani menyewa lahan di kabupaten lain.

Gito (45), petani bawang merah di Desa Wangandalem, Kecamatan Brebes, mengatakan, jumlah petani yang memindahkan lahan bawang mencapai ratusan orang. Mereka, antara lain, berpindah ke Majalengka, Tasikmalaya, Kendal, dan Purwokerto. ”Sejak dua tahun lalu, saya juga sewa lahan di Desa Pasir Mlati, Majalengka,” kata Gito.

Gito dan para petani menjelaskan, sejak beberapa tahun terakhir, saat kemarau, petani sulit memperoleh air. Air mencukupi hanya pada musim hujan. ”Kalau ada air saat kemarau, airnya terkontaminasi air laut. Air asin merusak tanaman,” kata Gito.

Selain itu, kualitas tanah turun karena berkembangbiaknya hama tanaman. Akibatnya, produktivitas rendah, hanya 8-12 ton per hektar, dengan ongkos produksi Rp 25 juta per ha. Padahal, di Majalengka petani bisa memanen 16 ton per ha, dengan biaya produksi Rp 20 juta per ha.

Saifudin (41), petani dan pedagang bawang di Desa Banjaratma, Kecamatan Bulakamba, mengatakan, persoalan itu harus mendapat perhatian serius pemerintah. Sebab, Brebes adalah pemasok bawang merah terbesar di Indonesia. (WIE)