TerraNet: Gapura Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
English Version | Halaman Depan | Milis Info | Jajak Pendapat | WebRing | Pola Kemitraan | Alamat Kontak | Buku Tamu
TerraMitra | TerraMilis | TerraKonferensi | TerraSearch | TerraKliping | TerraAgenda | TerraKartu | TerraJob | TerraKios

 

 

28 February 2008, Kompas Online
Resistensi terhadap Obat Anti-TB Makin Meningkat

Washington, Rabu - Resistensi multi-obat antituberkulosis di seluruh dunia seka- rang berada pada level tertinggi. Menurut Badan Kesehatan Dunia, sekitar 500.000 kasus baru resistensi multi-obat tuberku- losis terjadi setiap tahun di dunia.

Di sisi lain, pendanaan global untuk mengatasi penyebaran penyakit itu kian terbatas.

Ini berarti resistensi multi-obat antituberkulosis (TB) tersebut telah mencapai lima persen dari 9 juta kasus baru penyakit itu di dunia.

Hal ini berdasarkan survei pada 90.000 pasien TB di 81 negara. Survei ini juga menemukan kasus resistensi obat TB secara ekstensif meskipun masih dalam skala terbatas. Tingkat resistensi multi- obat tertinggi ditemukan di Baku, ibu kota Azerbaijan (22,3 persen).

Pengobatan tidak selesai

Menurut Direktur WHO Departemen ”Stop TB” Mario Raviglione, yang menyebabkan bakteri TB menjadi resisten terhadap obat anti-TB adalah jika pasien gagal menyelesaikan rangkaian pengobatan TB. Kondisi ini serupa dengan sifat obat antibiotik.

Resistensi obat tersebut menyebabkan pasien membutuhkan pengobatan selama dua tahun terus-menerus dengan obat yang harganya seratus kali lebih mahal dibandingkan dengan obat anti- TB yang dikonsumsi oleh pasien pada lini pertama.

Pihak WHO memperkirakan kebutuhan dana untuk mengatasi TB di negara-negara berpen- dapatan menengah ke bawah mencapai 4,8 miliar dollar AS, dan satu miliar dollar AS di antaranya untuk strains TB yang resisten.

”Resistensi multi-obat TB ini harus ditangani secara frontal. Jika tidak dilakukan seperti itu, komunitas internasional akan gagal mengatasinya,” tutur Direktur Departemen ”Stop TB” WHO Mario Raviglione. (AFP/EVY)